Wednesday, 30 January 2019

Cinta Itu Terbatas


Ada hal yang aku dapat hari ini, kalian ingin tahu? Ahh sayang sekali ternyata aku hanya punya tempe. :D 

Jadi tadi siang aku menghabiskan waktu menungguku dengan berbincang sedikit dengan seorang pria yang usianya lebih tua dari saya, barangkali selisih 10 tahun. Pria itu berbicara banyak, lebih tepatnya bicara yang sebatas guyonan, bercanda. Setelah sekian banyak kata yang keluar, sekian tawa menggelegar, aku terdiam pada kata “cinta yang sebatas...”
Dari kata itu ada makna yang aku pahami sedikit. Ternyata cinta itu terbatas. Iya cinta itu terbatas, tak bisa dirasakan atau bahkan diumbar secara berlebihan. Menurut pria itu, kita bisa mencintai apapun ciptaan Tuhan, seperti aku mencintaimu. Mencintaimu sebatas rekan, mencintaimu sebatas teman. Seperti aku mencintai makhluk Tuhan lain, pohon misalnya. Aku mencintai pohon, aku merawatnya, menyiraminya, memberi pupuk, menghilangkan benalunya, untuk menjaganya agar aku bisa melestarikannya, mencintainya sebatas mencintai sebuah tanaman.
Memang benar, ternyata cinta itu ada batasnya. Bayangkan saja jika kita mencintai sesuatu tanpa ada batasnya, berlebihan, bisa gila kita. Padahal Tuhan sendiri yang menghadirkan rasa cinta itu tapi Tuhan tak ingin jika kita berlebihan dalam mencintai apapun itu. Bahkan seseorang akan merugi jika salah dalam memaknai cinta. Seperti kalimat “aku akan mencintaimu seumur hidupku”, mereka tidak sadar bahwa ia memberikan cinta yang terbatas, sebatas mereka hidup saja. Setelah itu ia tidak bisa memberi rasa cintanya lagi, cinta memang terbatas. Tak sedikit orang merasa dirinya gila karena cinta. Mengakhiri hidupnya dengan sesuatu yang gila, minum racun serangga, padahal dirinya manusia bukan serangga. Ahh memang cinta itu terbatas.
Kita harus tahu berapa banyak cinta yang kita berikan kepada seseorang atau suatu benda agar kita tidak merasa dirugikan, lebih tepatnya dikecewakan. Iya memang, cinta tak bisa diukur atau didefinisikan tapi cinta itu bisa dirasakan. Cinta memang harus dirasakan oleh hati agar kita tahu seberapa besar kita mencintai. Apakah kita mencintai secara penuh atau hanya mencintai ketika butuh?
Cinta memang terbatas. Seperti aku, memutuskan untuk mencintaimu hanya sebatas kawan, bahkan aku mencintaimu juga sebagai lawan. Lawan untuk memusnahkan gejolak rasa yang menumbuhkan cinta hingga waktu yang terbatas.


Nata's Story :)

Tuesday, 29 January 2019

Melupakan

Adalah dengan mengingat, cara terbaik melupakan
Memeluk ingatan dengan erat
Sambil terus menenangkan diri
Menerima dengan senang hati
Perlahan tapi pasti semua akan terasa biasa saja
Tanpa kita sadari semua menguap begitu saja
Memaksakan diri untuk melupakan, akan terasa menyakitkan
Seperti parang menghujam ke sudut hati terdalam
Tersanyat, tak berdarah, namun membekas
Dengan menerima kenyataan
Yakin esok kkita lebih baik dari hari ini
Merupakan cara terbaik untuk mendamaikan hati
Kita tak akan bisa melupakan seseorang atau apapun, tanpa mengingatkan.


Magetan, 29 Januari 2019