Monday, 22 July 2019

Rembulan Sendu


Tatkala peluh sudah memenuhi seluruh tubuh,
Semangat yang membara tlah menjadi arang,
Dahaga tak terkira sudah tiada rasa,
Kau membunuhku dengan diammu.
Tiada sapa yang menyejukkan,
Tiada senyum tulus yang meluluhkan,
Kau berkecamuk dengan dirimu,
Kau acuh padaku,
Rayuanku, kau abaikan,
Tak sudi kau menoleh sedikit melihat juangku.

Seanggun rembulan di benderang malam,
Paras ayumu mengalihkanku, kala itu.
Kini aku kehilangan sinarnya,
Sinar yang menerangi sudut gelap duniaku,
Dikala hanya sapamu yang mampu melenyapkan penatku,
Atas semua asa yang tlah ku korbankan untukmu.

Entah apa yang membuatmu redup.
Aku yang tak lagi kau harapkan,
Atau kamu yang mulai merelakan.
Ahh...aku merindukanmu yang dulu.
Magetan, 11 Juni 2019

Monday, 22 April 2019

Kopi Yang Diingkari #3

Ini semua tentangmu Sa.
Tentang kisah antara aku, kau, dia, mereka dan seisi alam semesta. Satu tahun aku menemanimu bersamanya, 5 tahun aku memendam sebuah rasa dan butuh seperempat tahun aku membunuh rasa yang ku sebut itu cinta.

Bagi kalian, itu waktu yang cukup lama dan hanya berujung pada yang sia-sia. Tapi bagiku tidak, aku tidak menyebutnya lama bahkan sia-sia. Karena cinta bukan tentang bisakah aku bersamanya, tapi bagaimana kisah yang akan aku jalani selanjutnya, saat aku bisa mendapatkannya.

Dipenghujung penantianku, kau mulai menyadariku, mulai merasakanku dan aku mendapatkan sebuah jawaban dari penantian panjangku.

Harusnya aku bahagia, tapi entah mengapa aku berfikir sebaliknya. Aku merasa ada sesuatu yang tak bisa kusentuh dengan raga. Aku merasa diri ini berbeda dengan kisah yang tlah lalu yang tak pernah kulupa. Dan aku mulai berkaca.
Apakah diri ini pantas bersamamu Sa? tidak Sa, aku sangat tak pantas. Aku tak bisa jika harus bersamamu. Aku menyadari, kau begitu sempurna jika harus kumiliki.

Aku merasa kerdil setelah menyadari betapa sempurnanya dirimu, hingga aku mengingkari semua yang ku janjikan padamu. Secangkir kopi di senja sore di kedai yang pernah aku impikan duduk bersamamu aku mengingkarinya Sa.

Aku telah masuk dalam secangkir kopimu disela senja dan meninggalkan pahit yang tak terduga. Aku menoreh luka yang mungkin belum pernah kau rasakan sebelumnya, sampai air matamu yang menjelaskan semua. Aku hanya berharap, semoga kau mendapatkan rasa manis yang begitu hangat, yang jauh dari kopi pekat, yang akan terus memelukmu erat, hingga luka yang kubuat akan sembuh dan kembali utuh.

Aku coba menarik nafas panjang dengan mata terpejam dan bergumam,
"Aku melepaskanmu Sa, aku menghempaskanmu, aku membunuhmu, aku menghancurkanmu."

Itulah caraku agar kau membenciku. Sebab kau seperti senja yang tak dapat ku raih jingganya dan senja yang tlah mengutukmu menjadi wanita sempurna. Aku hanya salah satu penikmatmu, yang hanya pantas berada jauh darimu.

Dariku yang melepas, untukmu yang akan terbang bebas.


Saturday, 20 April 2019

Kopi Yang Diingkari #2

Aku sudah mulai biasa dengan semua ini. Setelah aku mati matian menikam ingatan tentang dirimu. Aku menoreh luka terdalam dengan melupakan. Awalnya ku kira dengan melupa semua akan baik baik saja, ternyata tidak. Justru aku semakin tersakiti. Hanya makhluk2 bodoh yg rela mengahabiskan sedetik hidupnya untuk melukai dirinya sendiri.

Aku memutuskan untuk tak melupakan, bahkan mencengkeram erat ingatan tentangmu. Aku ingin membiasakan sebuah keadaan yg tidak biasa menjadi biasa biasa saja. Dengan begitu aku akan bisa melupakan dengan sesungguhnya secara perlahan, pikirku.

Sebelumnya aku membuat diriku membenci apapun yg kau suka, padahal semua itu setiap harinya selalu menyapa dan tak akan pernah berakhir. Senja, kopi, hujan, aroma petrichor, fotografi, videografi apapun tentangmu. Aku menjumpainya di setiap sudut kehidupan tanpa bisa aku menghindarinya sepersekian waktu.

Aku percaya jika apapun yang ingin aku lupakan harusnya aku ingat dalam2. Dengan begitu semua akan terasa biasa dan terlupakan dengan sendirinya.

***
Setelah sekian waktu aku mulai terbiasa, bahkan aku mulai lupa usahaku melupakanmu, kau terlupakan dengan sendirinya. Hingga akhirnya..

"Hai sa...bagaimana kabarmu?"
Ah iya..kau menyapa, kembali menyapaku seolah tidak pernah terjadi apa2. Aku yang sudah mulai terbiasa mengikuti alurmu yang juga biasa biasa saja. Bagaimana aku saat itu aku merasa baik dan kau mensyukurinya.

"Sa...aku minta maaf", katamu. Aku sedikit terperanjat, meskipun itu hanya sebaris chat. Aku menjawab bahwa kamu tak punya salah. Tetapi kamu keukeuh meminta maaf. Bahkan aku tak tahu harus memaafkanmu perihal apa.

"Sa...kamu benci sama aku?"
"Nggak...tapi beberap waktu lalu aku sempat tak ingin mengenalmu kembali. Aku berusaha membencimu dan aku sungguh tak ingin mengenalmu lagi."
"Kamu serius sa?"
"Iya...itu kemarin, sekarang sih nggak".
"Aku minta maaf, aku sebenarnya tau kamu terluka karena aku, tapi aku tidak tega menyapamu, aku takut menyakitimu lagi".
"Sudahlah lupakan....aku sudah memaafkanmu waktu itu".

Entah kenapa ucapan dan hatiku tidak sinkron. Rasanya ada sesuatu yang ingin memberontak, menunjukan padamu bahwa luka2 itu membekas. Tapi, aku hanya diam, memandang jendela yang berembun karna hujan.

Malam itu berbeda, seperti akan ada hal yang lebih menyakitkan selanjutnya. Entah aku menoreh luka kembali atau aku dan kamu bukan lagi kita, namun hanya sebatas kata yang slalu kuabadikan di setiap sajak indahnya.

Tuesday, 12 March 2019

Ibu...


Aku tau mungkin ini caramu menghukumku
Membiarkanku hidup tanpamu
Berpijak pada tumpuan tanpa uluran tanganmu

Bu..
Kini aku semakin tumbuh
Aku merasa diri ini semakin rapuh
Tiada sosokmu yang membuatku seakan runtuh

Bu...
Terimakasih atas pelajaran kematian ini
Dengannya aku tau tak ada yang abadi di dunia ini
Semua akan kembali pada illahi Rabbi

Bu...
Izinkan aku melanjutkan baktiku
Pada seseorang pengganti peranmu
Menjalankan kesempatan kedua berbakti pada seorang ibu yang bukan dirimu
Dan aku akan terus berdoa untukmu
Dikekalkan pada singgasana surga
Dihapuskan segala dosa
Dijauhkan dari siksanya neraka

Saturday, 23 February 2019

Kopi Yang Diingkari

"Sa.."
"Iya, ada apa?" Begitulah kau menyapaku via whatsapp. Notif yang begitu lama tak menderingkan pesan whatsappku, yang selalu aku tunggu deringnya.
Tiba-tiba kau mengirim teka-teki yang sulit sekali aku pahami isinya. Sehari, dua hari bahkan sampai seminggu aku tak berhasil menemukan apa maksud teka-teki chatmu itu. Dirundung rasa penasaran, akhirnya aku menghubungimu lagi via whatsapp.

"Gimana sih maksudnya? aku gak paham sama chat mu."
"Haha tunggu saja waktunya." balasmu.
"Waktu apaan? kapan?"
"Semuanya ada di chatku Sa. Mulai dari waktu, tempat, hari, tanggal ada semua. Kita tinggal tunggu saatnya aja." jelasmu yang membuatku semakin tak paham.

Ah... kau selalu begitu. Datang sesuka hati, pergi semaunya sendiri, meninggalkan rasa penasaran padaku. Aku tak tahu apa maksudmu setelah beberapa waktu yang lalu kau mengutarakan perasaanmu kepadaku, tapi kau tak ingin memilikiku, katamu kau tak pantas untukku. Kau selalu mengkhawatirkanku, berusaha selalu ada saat aku membutuhkanmu, dulu. Setelah pengakuanmu padaku, kau tak seperti dulu. Tak lagi menghubungiku hingga akhirnya kau mengirim teka-teki yang membuatku dirundung rasa penasaran itu.

Rupanya kau sedang membuat janji temu denganku. Teka-teki itu terjawab saat tanggal dalam teka-teki itu tiba, yang kau tulis dengan "pada angka yang sebagian orang menganggap sebagai kesialan", angka 13 itu berarti tanggal 13. Saat kau menghubungiku dan mengatakan kalau kau tak bisa menemuiku di kedai kopi pada waktu senja yang kau janjikan. Dan kau menjanjikan lagi waktu temu untuk menggantikan tanggal 13.

Aku tersenyum lega setelah teka-teki itu terjawab, meskipun ada sedikit kekecewaan atas pembatalan janji temu itu. Tak apa aku memakluminya, kau begitu mungkin karena memang ada yang lebih penting dalam hidupmu, mimpi mungkin. Kau mengutamakan mimpimu dan membatalkan janji temu denganku.

***
"Sa...nanti sore sibuk?"
"Nggak...  kenapa?"
"Kita ketemu ditempat kemaren ya?"
Dan aku mengiyakan pesan whatsappmu. Kau mengajakku bertemu untuk mengganti janjimu yang kau ingkari sendiri. Katamu ada sesuatu yang harus disampaikan langsung, sesuatu yang tidak bisa di ungkapkan lewat pesan singkat whatsapp. Sesuatu itu adalah hatimu.
Kau mengajakku bertemu rupanya untuk melanjutkan ungkapan perasaanmu yang kau kirim melalui pesan singkat beberapa hari yang lalu, bahkan beberapa bulan yang lalu, yang masih aku ingat setiap spasi katanya.

Bingar di mataku tampak setelah aku baca chat singkat whatsappmu. Ada kebahagiaan tersendiri, kebahagiaan dan kesempatan aku mengungkapkan juga bagaimana aku pada dirimu. Namun, bingar bahagia itu tetiba meredup diiringi awan kelabu yang mewarnai cerah senja sore itu. Kau lagi-lagi membatalkan janji temu di kedai kopi yang sudah kita sepakati. Dengan alasan lain.

Kau bilang, kau ingin menyampaikan hal penting yang aku harus tau, tentang bagaimana kita nantinya. Tentang kau yang ingin menjadi bagian dari hidupku, tentang cinta yang tak lekang oleh waktu, tentang cinta yang akan kau jaga selama hidupmu.

Lagi, kau menjanjikan waktu lain di tempat dan waktu yang sama untuk bertemu denganku yang akhirnya kau ingkari juga, hanya karena rintik hujan. Hei...bukannya kau juga menyukai hujan? Lantas kenapa kau membatalkan janji temu yang selalu aku tunggu hanya karena hujan?
Aku berkecamuk dengan pikiranku sendiri. Kau mulai mempermainkanku, dan aku tetap menunggumu. Betapa bodohnya seseorang hanya karena rasa cinta ia rela dipermainkan meskipun ia menyadari.

***
Entah sudah berapa sabtu yang terlewat hingga sabtu ini dengan janji-janji ngopi yang kau ingkari. Tetap saja aku menunggu ajakanmu lagi. Hingga tetiba aku melihat kau berfoto dengan seorang wanita yang kau post di snapgram, snap whatsapp. Hati wanita mana yang tak berkecamuk melihat lelaki yang memiliki perasaan yang sama berpose bahagia dengan wanita lain? Tak ada.

Kutatap nanar rinai hujan yang mulai gemericik di luar jendela, seolah ia berpihak padaku. Awan kelabunya memenuhi setiap sudut pikiranku. Kau yang tak pernah menepati janjimu, seketika ingin kulupakan.

Kau menyukai senja, kau mencintai kopi, tapi kau mengingkari kopi-kopi yang kau janjikan pada wanita yang perasaannya kau permainkan. Jika katamu kau tak pantas, memang...kau sangat tak pantas. Aku menyesalinya.

Wednesday, 30 January 2019

Cinta Itu Terbatas


Ada hal yang aku dapat hari ini, kalian ingin tahu? Ahh sayang sekali ternyata aku hanya punya tempe. :D 

Jadi tadi siang aku menghabiskan waktu menungguku dengan berbincang sedikit dengan seorang pria yang usianya lebih tua dari saya, barangkali selisih 10 tahun. Pria itu berbicara banyak, lebih tepatnya bicara yang sebatas guyonan, bercanda. Setelah sekian banyak kata yang keluar, sekian tawa menggelegar, aku terdiam pada kata “cinta yang sebatas...”
Dari kata itu ada makna yang aku pahami sedikit. Ternyata cinta itu terbatas. Iya cinta itu terbatas, tak bisa dirasakan atau bahkan diumbar secara berlebihan. Menurut pria itu, kita bisa mencintai apapun ciptaan Tuhan, seperti aku mencintaimu. Mencintaimu sebatas rekan, mencintaimu sebatas teman. Seperti aku mencintai makhluk Tuhan lain, pohon misalnya. Aku mencintai pohon, aku merawatnya, menyiraminya, memberi pupuk, menghilangkan benalunya, untuk menjaganya agar aku bisa melestarikannya, mencintainya sebatas mencintai sebuah tanaman.
Memang benar, ternyata cinta itu ada batasnya. Bayangkan saja jika kita mencintai sesuatu tanpa ada batasnya, berlebihan, bisa gila kita. Padahal Tuhan sendiri yang menghadirkan rasa cinta itu tapi Tuhan tak ingin jika kita berlebihan dalam mencintai apapun itu. Bahkan seseorang akan merugi jika salah dalam memaknai cinta. Seperti kalimat “aku akan mencintaimu seumur hidupku”, mereka tidak sadar bahwa ia memberikan cinta yang terbatas, sebatas mereka hidup saja. Setelah itu ia tidak bisa memberi rasa cintanya lagi, cinta memang terbatas. Tak sedikit orang merasa dirinya gila karena cinta. Mengakhiri hidupnya dengan sesuatu yang gila, minum racun serangga, padahal dirinya manusia bukan serangga. Ahh memang cinta itu terbatas.
Kita harus tahu berapa banyak cinta yang kita berikan kepada seseorang atau suatu benda agar kita tidak merasa dirugikan, lebih tepatnya dikecewakan. Iya memang, cinta tak bisa diukur atau didefinisikan tapi cinta itu bisa dirasakan. Cinta memang harus dirasakan oleh hati agar kita tahu seberapa besar kita mencintai. Apakah kita mencintai secara penuh atau hanya mencintai ketika butuh?
Cinta memang terbatas. Seperti aku, memutuskan untuk mencintaimu hanya sebatas kawan, bahkan aku mencintaimu juga sebagai lawan. Lawan untuk memusnahkan gejolak rasa yang menumbuhkan cinta hingga waktu yang terbatas.


Nata's Story :)

Tuesday, 29 January 2019

Melupakan

Adalah dengan mengingat, cara terbaik melupakan
Memeluk ingatan dengan erat
Sambil terus menenangkan diri
Menerima dengan senang hati
Perlahan tapi pasti semua akan terasa biasa saja
Tanpa kita sadari semua menguap begitu saja
Memaksakan diri untuk melupakan, akan terasa menyakitkan
Seperti parang menghujam ke sudut hati terdalam
Tersanyat, tak berdarah, namun membekas
Dengan menerima kenyataan
Yakin esok kkita lebih baik dari hari ini
Merupakan cara terbaik untuk mendamaikan hati
Kita tak akan bisa melupakan seseorang atau apapun, tanpa mengingatkan.


Magetan, 29 Januari 2019