Biarkan aku mengagumimu dalam diamku
Dirimu, satu dari segala keindahan yang Tuhan ciptakan
Senyummu yang simpul, mampu membuatku terpikat
Tuturmu yang lembut, mampu membuatku melesat
Ah sudahlah...
Biarkan Tuhan yang mengatur semua ini
Tak berharap lebih kau membalas kagumku ini
Jika memang kau balas...
Semoga semuanya dengan ketulusan yang indah :)
Friday, 21 September 2018
Saturday, 15 September 2018
Kala Maghrib
Selepas sholat maghrib, aku menemui pemilik rumah. Aku duduk bersimpuh
dihadapan seorang ibu dengan bocah di pangkuannya. Ucapan terima kasih
aku sampaikan atas kebolehanku sholat maghrib di rumahnya. Tak pantas
rasanya jika aku langsung pamit pulang, aku pun membuka perbincangan
ringan, sekedar basa basi. Sekedar menanyakan umur bocah yg sedang pulas
tertidur dipangkuannya setelah melahap ASI sang ibu. Beliau bertanya
berbagai hal kpdaku dan aku pun menjawab pertanyaan" beliau
dengan gaya bicaraku yg sdikit bercanda. Dibalas dengan tawa kecil oleh
beliau. Ada satu pertanyaan yg membuatku hanya cengar cengir memikirkan
jawaban. "Mbak pripun nek ndidik bocah sing moro tangan, senengane
usil, kncone meneng dikaplok, gek nek d kandani wong tuwane angel. Jan
ndak iso meneng tangane". Sebuah pertanyaan dengan logat ponoragan yg
khas. Pertanyaan itu memaksaku u/ mncari jwaban yg tepat dan tdk
terkesan ngawur. Karena aku hanya berfikir, "aku masih muda, mana tau
soal mendidik anak? Menikah pun belum apalagi melahirkan? Dibanding
beliau yg sudah 2x melahirkan". Aku brusaha menerka" jawaban agar tdk
terkesan ngawur. Aku hanya menjawab "kalau stiap anak memiliki karakter
yg beda dan tinggal ortunya sj bagaimana mengarahkan si anak".
Setelah kurasa cukup, perbincangan itu aku akhiri dg kata maaf & trima kasih sebelum aku beranjak pulang.
Sepanjang jalan pulang aku berfikir, "seorang ibu di era glibalisasi skarang ini mengatasi tingkah laku anak sendiri masih bingung, masih butuh arahan dr org lain, sekalipun ia sudah memiliki anak banyak". Aku berfikir sejenak...mungkin pengenalan karakter seorang anak itu perlu dikenalkan sejak dini pd seorg wanita yg akan memiliki peran sbg seorg ibu. Sehingga pd saat ia memiliki anak, ia sudah memiliki bekal utk mendidik anak"ny agar lebih baik, sekalipun karakter setiap anak itu berbeda. Dan tentunya nilai moral dan nilai agama wajib ditanamkan pd anak sejak dini utk kebaikan akhlaknya dan tentunya utk mnciptakan generasi yg rabbani
Setelah kurasa cukup, perbincangan itu aku akhiri dg kata maaf & trima kasih sebelum aku beranjak pulang.
Sepanjang jalan pulang aku berfikir, "seorang ibu di era glibalisasi skarang ini mengatasi tingkah laku anak sendiri masih bingung, masih butuh arahan dr org lain, sekalipun ia sudah memiliki anak banyak". Aku berfikir sejenak...mungkin pengenalan karakter seorang anak itu perlu dikenalkan sejak dini pd seorg wanita yg akan memiliki peran sbg seorg ibu. Sehingga pd saat ia memiliki anak, ia sudah memiliki bekal utk mendidik anak"ny agar lebih baik, sekalipun karakter setiap anak itu berbeda. Dan tentunya nilai moral dan nilai agama wajib ditanamkan pd anak sejak dini utk kebaikan akhlaknya dan tentunya utk mnciptakan generasi yg rabbani
Terkoyak Hatinya
Gadis itu...gadis yg mencoba tegar sejak bertahun-tahun silam kini
terkoyak lagi hatinya. Gadis yg elok parasnya, baik perangainya, kini
meneteskan air mata sebagai pertanda bahwa ia sudah tak mampu lagi
bertahan pada pijakan yg menyakitkan itu. Ia hanya mampu meminta dan
memohon pada Tuhan pencipta alam.
Gadis itu... kini bagai mawar layu yg tak harum lagi, kering, dan rapuh. Ia menahan luka akibat rasa cinta yg tumbuh di hatinya. Menutupi semua rasa sakit karna cinta yg menghancurkan dirinya.
Ia...tertawa lepas seolah ia meluapkan semua kesedihannya, bersenda gurau seolah melampiaskan amarahnya. Tak banyak bicara namun terlalu banyak memendam.
Ketegaran yg ia bangun bertahun tahun, kini luluh lantak oleh rasa cinta. Kini ia mencoba bangkit, membangun kembali ketegaran dengan keyakinan yg lebih kokoh lagi. Mencoba mengubur kepingan kehancuran karena rasa cinta yg tumbuh di hatinya.
Gadis itu...hatinya sekokoh baja, tapi jika sudah kecewa..ia tak bisa menjamin apa". Memang ia hanya diam dan tersenyum, tapi tak kan pernah ada yg menyangka bahwa diamnya itu bisa meluluh lantakan dunia.
Kini... gadis itu... mencoba mengikhlaskan kehancuran dan mengubur rasa sakit yg di deritanya untuk kebahagiaan yg sedang menantinya.
Gadis itu... kini bagai mawar layu yg tak harum lagi, kering, dan rapuh. Ia menahan luka akibat rasa cinta yg tumbuh di hatinya. Menutupi semua rasa sakit karna cinta yg menghancurkan dirinya.
Ia...tertawa lepas seolah ia meluapkan semua kesedihannya, bersenda gurau seolah melampiaskan amarahnya. Tak banyak bicara namun terlalu banyak memendam.
Ketegaran yg ia bangun bertahun tahun, kini luluh lantak oleh rasa cinta. Kini ia mencoba bangkit, membangun kembali ketegaran dengan keyakinan yg lebih kokoh lagi. Mencoba mengubur kepingan kehancuran karena rasa cinta yg tumbuh di hatinya.
Gadis itu...hatinya sekokoh baja, tapi jika sudah kecewa..ia tak bisa menjamin apa". Memang ia hanya diam dan tersenyum, tapi tak kan pernah ada yg menyangka bahwa diamnya itu bisa meluluh lantakan dunia.
Kini... gadis itu... mencoba mengikhlaskan kehancuran dan mengubur rasa sakit yg di deritanya untuk kebahagiaan yg sedang menantinya.
Friday, 14 September 2018
Kopi Sang Fajar
Pagi itu aroma harum kopi memenuhi sudut teras
Ku duduk bersandar memandang dengan lepas
Menikmati rasa pahit dan manis yang beradu pada secawan rindu
Berharap tak sekedar bayangmu yang menemaniku pagi itu
Sinar sang fajar yang hangat
Mengingatkanku pada tawamu yang memikat
Sinar silaunya mengingatkanku pada parasmu
Yang selalu menggebu rindu
Dirimu...
Luangkan waktumu untukku
Hanya sekedar menebus pahitnya rasa rindu
Hanya pertemuan yang dapat mengalahkan manis gula itu
Dirimu...
Gantikanlah imajinasiku dengan nyatanya kamu
Yang selalu aku rindu
Saat aku menikmati kopi hangatku
Ku duduk bersandar memandang dengan lepas
Menikmati rasa pahit dan manis yang beradu pada secawan rindu
Berharap tak sekedar bayangmu yang menemaniku pagi itu
Sinar sang fajar yang hangat
Mengingatkanku pada tawamu yang memikat
Sinar silaunya mengingatkanku pada parasmu
Yang selalu menggebu rindu
Dirimu...
Luangkan waktumu untukku
Hanya sekedar menebus pahitnya rasa rindu
Hanya pertemuan yang dapat mengalahkan manis gula itu
Dirimu...
Gantikanlah imajinasiku dengan nyatanya kamu
Yang selalu aku rindu
Saat aku menikmati kopi hangatku
Thursday, 13 September 2018
Teruntuk Sang Jingga
teruntukmu sang jingga...
aku ucapkan terimakasih
hadirmu slalu mengingatkan aku
pada dia pengagum senja
di penghujung hari aku selalu mengingatnya
selalu merasa bersama dirinya
manakala hari itu tak sedetikpun aku mengingatnya
hadirmulah yang mampu mengingatkanku akan dirinya
untukmu pengagum senja...
terimakasih semua yang kau ucapkan padaku
untuk semua yang kau beri padaku
tak satupun aku mampu membalas
bersama sang waktu
kuucapkan terima kasih untukmu sang jingga
dan pengagum senja
semoga indahmu selalu kurindukan
aku ucapkan terimakasih
hadirmu slalu mengingatkan aku
pada dia pengagum senja
di penghujung hari aku selalu mengingatnya
selalu merasa bersama dirinya
manakala hari itu tak sedetikpun aku mengingatnya
hadirmulah yang mampu mengingatkanku akan dirinya
untukmu pengagum senja...
terimakasih semua yang kau ucapkan padaku
untuk semua yang kau beri padaku
tak satupun aku mampu membalas
bersama sang waktu
kuucapkan terima kasih untukmu sang jingga
dan pengagum senja
semoga indahmu selalu kurindukan
Subscribe to:
Posts (Atom)