Selepas sholat maghrib, aku menemui pemilik rumah. Aku duduk bersimpuh
dihadapan seorang ibu dengan bocah di pangkuannya. Ucapan terima kasih
aku sampaikan atas kebolehanku sholat maghrib di rumahnya. Tak pantas
rasanya jika aku langsung pamit pulang, aku pun membuka perbincangan
ringan, sekedar basa basi. Sekedar menanyakan umur bocah yg sedang pulas
tertidur dipangkuannya setelah melahap ASI sang ibu. Beliau bertanya
berbagai hal kpdaku dan aku pun menjawab pertanyaan" beliau
dengan gaya bicaraku yg sdikit bercanda. Dibalas dengan tawa kecil oleh
beliau. Ada satu pertanyaan yg membuatku hanya cengar cengir memikirkan
jawaban. "Mbak pripun nek ndidik bocah sing moro tangan, senengane
usil, kncone meneng dikaplok, gek nek d kandani wong tuwane angel. Jan
ndak iso meneng tangane". Sebuah pertanyaan dengan logat ponoragan yg
khas. Pertanyaan itu memaksaku u/ mncari jwaban yg tepat dan tdk
terkesan ngawur. Karena aku hanya berfikir, "aku masih muda, mana tau
soal mendidik anak? Menikah pun belum apalagi melahirkan? Dibanding
beliau yg sudah 2x melahirkan". Aku brusaha menerka" jawaban agar tdk
terkesan ngawur. Aku hanya menjawab "kalau stiap anak memiliki karakter
yg beda dan tinggal ortunya sj bagaimana mengarahkan si anak".
Setelah kurasa cukup, perbincangan itu aku akhiri dg kata maaf & trima kasih sebelum aku beranjak pulang.
Sepanjang jalan pulang aku berfikir, "seorang ibu di era glibalisasi
skarang ini mengatasi tingkah laku anak sendiri masih bingung, masih
butuh arahan dr org lain, sekalipun ia sudah memiliki anak banyak". Aku
berfikir sejenak...mungkin pengenalan karakter seorang anak itu perlu
dikenalkan sejak dini pd seorg wanita yg akan memiliki peran sbg seorg
ibu. Sehingga pd saat ia memiliki anak, ia sudah memiliki bekal utk
mendidik anak"ny agar lebih baik, sekalipun karakter setiap anak itu
berbeda. Dan tentunya nilai moral dan nilai agama wajib ditanamkan pd
anak sejak dini utk kebaikan akhlaknya dan tentunya utk mnciptakan
generasi yg rabbani
No comments:
Post a Comment