Tatkala peluh sudah
memenuhi seluruh tubuh,
Semangat yang membara
tlah menjadi arang,
Dahaga tak terkira
sudah tiada rasa,
Kau membunuhku dengan
diammu.
Tiada sapa yang
menyejukkan,
Tiada senyum tulus yang
meluluhkan,
Kau berkecamuk dengan
dirimu,
Kau acuh padaku,
Rayuanku, kau abaikan,
Tak sudi kau menoleh
sedikit melihat juangku.
Seanggun rembulan di
benderang malam,
Paras ayumu
mengalihkanku, kala itu.
Kini aku kehilangan
sinarnya,
Sinar yang menerangi
sudut gelap duniaku,
Dikala hanya sapamu
yang mampu melenyapkan penatku,
Atas semua asa yang
tlah ku korbankan untukmu.
Entah apa yang
membuatmu redup.
Aku yang tak lagi kau
harapkan,
Atau kamu yang mulai
merelakan.
Ahh...aku merindukanmu
yang dulu.
Magetan,
11 Juni 2019