Friday, 30 November 2018

Kenyataan

Cahaya kemerahan itu menyambutku dengan hangat
Kicauan merdu membangunkanku dari mimpi yang hebat
Segalanya kupersiapkan untuk mengawali pijakku yang kuat
Dengan sejuta harap, kuawali pagi ini dengan senyuman yang memikat

Menelusuri lorong-lorong kehidupan
Menerabas pahit getirnya cacian
Bertumpu pada seonggok harapan
Dan memulai sebuah kenyataan

Aku pernah terjatuh pada jurang gelap kehidupan
Tersesat pada jalan yang tak berujung
Tenggelam di tengah lautan yang tak bertepi
Menangis dalam dingin dan sunyinya malam

Senyumku yang pernah pudar
Kini aku tebus dengan terwujudnya secercah harapan
Berlari sekuat mungkin dari kelamnya kesalahan
Memulai kehidupan baru, mewujudkan apa yang aku inginkan

Kini aku mulai sadar...
Tak akan ada habisnya jika aku terus meratapi diriku
Mencari-cari seperti apa diriku
Tanpa mau bangkit dan memulai hal baru
Yang akan menunjukkan bagaimana diriku

Menyadari bahwa selalu ada doa-doa yang terapal dengan indah
Sujud dengan penuh permohonan
Air mata yang berderai setiap malam
Oleh sosok-sosok yang mulai renta, yang menemani selama hidupku

Dengan tekat bulat...
Aku berjanji untuk tetap kuat dalam sebuah pijakan
Tidak larut dalam cacian dan hinaan
Tetap tegar dalam menjalani kehidupan
Tanpa sedikitpun senyuman yang pudar
Untuk kebahagiaan mereka, yang tak kan pernah terbayar


Aku...

Jika aku...mengagumimu kau bisa apa?
Jika aku...menginginkanmu kau bisa apa?
Jika aku...mengharapkanmu kau bisa apa?
Jika aku...mencintaimu kau bisa apa?

Ahh...
Aku yakin kau tak bisa apa-apa
Kau mungkin juga tak akan berkutik
Atau kau akan menanyakan alasannya padaku?

Iya...mungkin kau akan menanyakan itu padaku
Tapi...jika aku tak memiliki alasan untuk itu
Kau bisa apa?
Menyerahkan diri padaku?

Tidak...kau sangat tak pantas untuk kumiliki
Bagaimana mungkin aku bisa memilikimu dengan cuma-cuma?
Sedangkan kau bisa sesuka hati memilih untuk siapa dirimu
Dan itu bukan aku...

Aku tidak bisa melawan egoku, untuk memilikimu
Aku juga tidak bisa terima jika rasa kecewa menyapaku
Aku...bahkan ingin lari jika aku tersadar akan semua ini
Karna kenyataannya sungguh menyakitkan

Tuesday, 27 November 2018

Nata dan Hujan

Dia adalah sahabatku. Dia adalah pesona alam yang sulit kubaca namun kudengar cakapnya, kuresapi rintiknya, ku kenang genangannya dan ku cium aroma keruhnya.
Hei...kau pernah menemaniku menembus gelapnya malam bukan? Kau bahkan setia menemaniku menyusuri gelapnya jalanan itu, ahh kau hampir kulupakan, tak sangka kita dapat bertemu lagi, namun kali ini beda, di tempat yang beda, waktu yang beda dan pastinya dengan haru yang beda pula.
Aku tak pernah menghindarimu kecuali untuk mengenakan jas hujan, tunggu...itu hanya sebentar. Aku mengenakan jas hujan agar aku bisa bercengkrama denganmu lebih dekat. Dan kau tau...aku pernah menyukaimu, menjadikanmu hidup dalam sanubariku, menganggap kaulah yang mampu menyembunyikan amarah dan sedihku...ahh iyaa maaf aku hampir melupakanmu, tapi kali ini aku akan selalu mengingatmu. Aku tak pernah membencimu, bahkan aku selalu merindukanmu, merindukan wangi aromamu dan suasana damaimu.

Kau tau kau tak terkalahkan?
iya...sore kemarin kau berhasil mengalahkan senja. Entah berapa banyak kutukan untukmu oleh pengagum senja. Tapi, tak usah khawatir...bahkan saat kau hadir membersamai senja, indahmu tiada kira. Jangankan makian, cibiran lembut pun tak pantas kau dapatkan.
Jangan kau hiraukan, bahkan lebih banyak yang mengharapkan kehadiranmu. Banyak yang mengenang kenangan bersamamu. Dan yang terpenting, kau hadir menghapus air mata kesedihan mereka yang menantimu.
Kau tau...aku akan lebih mengagumimu.
Mengagumi warnamu,
Mengagumi aromamu,
Mengagumi suasanamu,
bahkan mengagumi keelokanmu.

Friday, 21 September 2018

Mengagumimu

Biarkan aku mengagumimu dalam diamku
Dirimu, satu dari segala keindahan yang Tuhan ciptakan
Senyummu yang simpul, mampu membuatku terpikat
Tuturmu yang lembut, mampu membuatku melesat
Ah sudahlah...
Biarkan Tuhan yang mengatur semua ini
Tak berharap lebih kau membalas kagumku ini
Jika memang kau balas...
Semoga semuanya dengan ketulusan yang indah :)

Saturday, 15 September 2018

Kala Maghrib

Selepas sholat maghrib, aku menemui pemilik rumah. Aku duduk bersimpuh dihadapan seorang ibu dengan bocah di pangkuannya. Ucapan terima kasih aku sampaikan atas kebolehanku sholat maghrib di rumahnya. Tak pantas rasanya jika aku langsung pamit pulang, aku pun membuka perbincangan ringan, sekedar basa basi. Sekedar menanyakan umur bocah yg sedang pulas tertidur dipangkuannya setelah melahap ASI sang ibu. Beliau bertanya berbagai hal kpdaku dan aku pun menjawab pertanyaan" beliau dengan gaya bicaraku yg sdikit bercanda. Dibalas dengan tawa kecil oleh beliau. Ada satu pertanyaan yg membuatku hanya cengar cengir memikirkan jawaban. "Mbak pripun nek ndidik bocah sing moro tangan, senengane usil, kncone meneng dikaplok, gek nek d kandani wong tuwane angel. Jan ndak iso meneng tangane". Sebuah pertanyaan dengan logat ponoragan yg khas. Pertanyaan itu memaksaku u/ mncari jwaban yg tepat dan tdk terkesan ngawur. Karena aku hanya berfikir, "aku masih muda, mana tau soal mendidik anak? Menikah pun belum apalagi melahirkan? Dibanding beliau yg sudah 2x melahirkan". Aku brusaha menerka" jawaban agar tdk terkesan ngawur. Aku hanya menjawab "kalau stiap anak memiliki karakter yg beda dan tinggal ortunya sj bagaimana mengarahkan si anak".
Setelah kurasa cukup, perbincangan itu aku akhiri dg kata maaf & trima kasih sebelum aku beranjak pulang.
Sepanjang jalan pulang aku berfikir, "seorang ibu di era glibalisasi skarang ini mengatasi tingkah laku anak sendiri masih bingung, masih butuh arahan dr org lain, sekalipun ia sudah memiliki anak banyak". Aku berfikir sejenak...mungkin pengenalan karakter seorang anak itu perlu dikenalkan sejak dini pd seorg wanita yg akan memiliki peran sbg seorg ibu. Sehingga pd saat ia memiliki anak, ia sudah memiliki bekal utk mendidik anak"ny agar lebih baik, sekalipun karakter setiap anak itu berbeda. Dan tentunya nilai moral dan nilai agama wajib ditanamkan pd anak sejak dini utk kebaikan akhlaknya dan tentunya utk mnciptakan generasi yg rabbani

Terkoyak Hatinya

Gadis itu...gadis yg mencoba tegar sejak bertahun-tahun silam kini terkoyak lagi hatinya. Gadis yg elok parasnya, baik perangainya, kini meneteskan air mata sebagai pertanda bahwa ia sudah tak mampu lagi bertahan pada pijakan yg menyakitkan itu. Ia hanya mampu meminta dan memohon pada Tuhan pencipta alam.
Gadis itu... kini bagai mawar layu yg tak harum lagi, kering, dan rapuh. Ia menahan luka akibat rasa cinta yg tumbuh di hatinya. Menutupi semua rasa sakit karna cinta yg menghancurkan dirinya.
Ia...tertawa lepas seolah ia meluapkan semua kesedihannya, bersenda gurau seolah melampiaskan amarahnya. Tak banyak bicara namun terlalu banyak memendam.
Ketegaran yg ia bangun bertahun tahun, kini luluh lantak oleh rasa cinta. Kini ia mencoba bangkit, membangun kembali ketegaran dengan keyakinan yg lebih kokoh lagi. Mencoba mengubur kepingan kehancuran karena rasa cinta yg tumbuh di hatinya.
Gadis itu...hatinya sekokoh baja, tapi jika sudah kecewa..ia tak bisa menjamin apa". Memang ia hanya diam dan tersenyum, tapi tak kan pernah ada yg menyangka bahwa diamnya itu bisa meluluh lantakan dunia.
Kini... gadis itu... mencoba mengikhlaskan kehancuran dan mengubur rasa sakit yg di deritanya untuk kebahagiaan yg sedang menantinya.

Friday, 14 September 2018

Kopi Sang Fajar

Pagi itu aroma harum kopi memenuhi sudut teras
Ku duduk bersandar memandang dengan lepas
Menikmati rasa pahit dan manis yang beradu pada secawan rindu
Berharap tak sekedar bayangmu yang menemaniku pagi itu

Sinar sang fajar yang hangat
Mengingatkanku pada tawamu yang memikat
Sinar silaunya mengingatkanku pada parasmu
Yang selalu menggebu rindu

Dirimu...
Luangkan waktumu untukku
Hanya sekedar menebus pahitnya rasa rindu
Hanya pertemuan yang dapat mengalahkan manis gula itu

Dirimu...
Gantikanlah imajinasiku dengan nyatanya kamu
Yang selalu aku rindu
Saat aku menikmati kopi hangatku



Thursday, 13 September 2018

Teruntuk Sang Jingga

teruntukmu sang jingga...
aku ucapkan terimakasih
hadirmu slalu mengingatkan aku
pada dia pengagum senja

di penghujung hari aku selalu mengingatnya

selalu merasa bersama dirinya
manakala hari itu tak sedetikpun aku mengingatnya
hadirmulah yang mampu mengingatkanku akan dirinya

untukmu pengagum senja...

terimakasih semua yang kau ucapkan padaku
untuk semua yang kau beri padaku
tak satupun aku mampu membalas

bersama sang waktu

kuucapkan terima kasih untukmu sang jingga
dan pengagum senja
semoga indahmu selalu kurindukan