Aku sudah mulai biasa dengan semua ini. Setelah aku mati matian menikam ingatan tentang dirimu. Aku menoreh luka terdalam dengan melupakan. Awalnya ku kira dengan melupa semua akan baik baik saja, ternyata tidak. Justru aku semakin tersakiti. Hanya makhluk2 bodoh yg rela mengahabiskan sedetik hidupnya untuk melukai dirinya sendiri.
Aku memutuskan untuk tak melupakan, bahkan mencengkeram erat ingatan tentangmu. Aku ingin membiasakan sebuah keadaan yg tidak biasa menjadi biasa biasa saja. Dengan begitu aku akan bisa melupakan dengan sesungguhnya secara perlahan, pikirku.
Sebelumnya aku membuat diriku membenci apapun yg kau suka, padahal semua itu setiap harinya selalu menyapa dan tak akan pernah berakhir. Senja, kopi, hujan, aroma petrichor, fotografi, videografi apapun tentangmu. Aku menjumpainya di setiap sudut kehidupan tanpa bisa aku menghindarinya sepersekian waktu.
Aku percaya jika apapun yang ingin aku lupakan harusnya aku ingat dalam2. Dengan begitu semua akan terasa biasa dan terlupakan dengan sendirinya.
***
Setelah sekian waktu aku mulai terbiasa, bahkan aku mulai lupa usahaku melupakanmu, kau terlupakan dengan sendirinya. Hingga akhirnya..
"Hai sa...bagaimana kabarmu?"
Ah iya..kau menyapa, kembali menyapaku seolah tidak pernah terjadi apa2. Aku yang sudah mulai terbiasa mengikuti alurmu yang juga biasa biasa saja. Bagaimana aku saat itu aku merasa baik dan kau mensyukurinya.
"Sa...aku minta maaf", katamu. Aku sedikit terperanjat, meskipun itu hanya sebaris chat. Aku menjawab bahwa kamu tak punya salah. Tetapi kamu keukeuh meminta maaf. Bahkan aku tak tahu harus memaafkanmu perihal apa.
"Sa...kamu benci sama aku?"
"Nggak...tapi beberap waktu lalu aku sempat tak ingin mengenalmu kembali. Aku berusaha membencimu dan aku sungguh tak ingin mengenalmu lagi."
"Kamu serius sa?"
"Iya...itu kemarin, sekarang sih nggak".
"Aku minta maaf, aku sebenarnya tau kamu terluka karena aku, tapi aku tidak tega menyapamu, aku takut menyakitimu lagi".
"Sudahlah lupakan....aku sudah memaafkanmu waktu itu".
Entah kenapa ucapan dan hatiku tidak sinkron. Rasanya ada sesuatu yang ingin memberontak, menunjukan padamu bahwa luka2 itu membekas. Tapi, aku hanya diam, memandang jendela yang berembun karna hujan.
Malam itu berbeda, seperti akan ada hal yang lebih menyakitkan selanjutnya. Entah aku menoreh luka kembali atau aku dan kamu bukan lagi kita, namun hanya sebatas kata yang slalu kuabadikan di setiap sajak indahnya.
No comments:
Post a Comment