Ada
hal yang aku dapat hari ini, kalian ingin tahu? Ahh sayang sekali ternyata aku
hanya punya tempe. :D
Jadi
tadi siang aku menghabiskan waktu menungguku dengan berbincang sedikit dengan
seorang pria yang usianya lebih tua dari saya, barangkali selisih 10 tahun.
Pria itu berbicara banyak, lebih tepatnya bicara yang sebatas guyonan,
bercanda. Setelah sekian banyak kata yang keluar, sekian tawa menggelegar, aku
terdiam pada kata “cinta yang sebatas...”
Dari
kata itu ada makna yang aku pahami sedikit. Ternyata cinta itu terbatas. Iya
cinta itu terbatas, tak bisa dirasakan atau bahkan diumbar secara berlebihan.
Menurut pria itu, kita bisa mencintai apapun ciptaan Tuhan, seperti aku
mencintaimu. Mencintaimu sebatas rekan, mencintaimu sebatas teman. Seperti aku
mencintai makhluk Tuhan lain, pohon misalnya. Aku mencintai pohon, aku
merawatnya, menyiraminya, memberi pupuk, menghilangkan benalunya, untuk
menjaganya agar aku bisa melestarikannya, mencintainya sebatas mencintai sebuah
tanaman.
Memang
benar, ternyata cinta itu ada batasnya. Bayangkan saja jika kita mencintai
sesuatu tanpa ada batasnya, berlebihan, bisa gila kita. Padahal Tuhan sendiri
yang menghadirkan rasa cinta itu tapi Tuhan tak ingin jika kita berlebihan
dalam mencintai apapun itu. Bahkan seseorang akan merugi jika salah dalam
memaknai cinta. Seperti kalimat “aku akan mencintaimu seumur hidupku”, mereka
tidak sadar bahwa ia memberikan cinta yang terbatas, sebatas mereka hidup saja.
Setelah itu ia tidak bisa memberi rasa cintanya lagi, cinta memang terbatas.
Tak sedikit orang merasa dirinya gila karena cinta. Mengakhiri hidupnya dengan
sesuatu yang gila, minum racun serangga, padahal dirinya manusia bukan
serangga. Ahh memang cinta itu terbatas.
Kita
harus tahu berapa banyak cinta yang kita berikan kepada seseorang atau suatu
benda agar kita tidak merasa dirugikan, lebih tepatnya dikecewakan. Iya memang,
cinta tak bisa diukur atau didefinisikan tapi cinta itu bisa dirasakan. Cinta
memang harus dirasakan oleh hati agar kita tahu seberapa besar kita mencintai.
Apakah kita mencintai secara penuh atau hanya mencintai ketika butuh?
Cinta
memang terbatas. Seperti aku, memutuskan untuk mencintaimu hanya sebatas kawan,
bahkan aku mencintaimu juga sebagai lawan. Lawan untuk memusnahkan gejolak rasa
yang menumbuhkan cinta hingga waktu yang terbatas.
Nata's Story :)
No comments:
Post a Comment