"Sa.."
"Iya, ada apa?" Begitulah kau menyapaku via whatsapp. Notif yang begitu lama tak menderingkan pesan whatsappku, yang selalu aku tunggu deringnya.
Tiba-tiba kau mengirim teka-teki yang sulit sekali aku pahami isinya. Sehari, dua hari bahkan sampai seminggu aku tak berhasil menemukan apa maksud teka-teki chatmu itu. Dirundung rasa penasaran, akhirnya aku menghubungimu lagi via whatsapp.
"Gimana sih maksudnya? aku gak paham sama chat mu."
"Haha tunggu saja waktunya." balasmu.
"Waktu apaan? kapan?"
"Semuanya ada di chatku Sa. Mulai dari waktu, tempat, hari, tanggal ada semua. Kita tinggal tunggu saatnya aja." jelasmu yang membuatku semakin tak paham.
Ah... kau selalu begitu. Datang sesuka hati, pergi semaunya sendiri, meninggalkan rasa penasaran padaku. Aku tak tahu apa maksudmu setelah beberapa waktu yang lalu kau mengutarakan perasaanmu kepadaku, tapi kau tak ingin memilikiku, katamu kau tak pantas untukku. Kau selalu mengkhawatirkanku, berusaha selalu ada saat aku membutuhkanmu, dulu. Setelah pengakuanmu padaku, kau tak seperti dulu. Tak lagi menghubungiku hingga akhirnya kau mengirim teka-teki yang membuatku dirundung rasa penasaran itu.
Rupanya kau sedang membuat janji temu denganku. Teka-teki itu terjawab saat tanggal dalam teka-teki itu tiba, yang kau tulis dengan "pada angka yang sebagian orang menganggap sebagai kesialan", angka 13 itu berarti tanggal 13. Saat kau menghubungiku dan mengatakan kalau kau tak bisa menemuiku di kedai kopi pada waktu senja yang kau janjikan. Dan kau menjanjikan lagi waktu temu untuk menggantikan tanggal 13.
Aku tersenyum lega setelah teka-teki itu terjawab, meskipun ada sedikit kekecewaan atas pembatalan janji temu itu. Tak apa aku memakluminya, kau begitu mungkin karena memang ada yang lebih penting dalam hidupmu, mimpi mungkin. Kau mengutamakan mimpimu dan membatalkan janji temu denganku.
***
"Sa...nanti sore sibuk?"
"Nggak... kenapa?"
"Kita ketemu ditempat kemaren ya?"
Dan aku mengiyakan pesan whatsappmu. Kau mengajakku bertemu untuk mengganti janjimu yang kau ingkari sendiri. Katamu ada sesuatu yang harus disampaikan langsung, sesuatu yang tidak bisa di ungkapkan lewat pesan singkat whatsapp. Sesuatu itu adalah hatimu.
Kau mengajakku bertemu rupanya untuk melanjutkan ungkapan perasaanmu yang kau kirim melalui pesan singkat beberapa hari yang lalu, bahkan beberapa bulan yang lalu, yang masih aku ingat setiap spasi katanya.
Bingar di mataku tampak setelah aku baca chat singkat whatsappmu. Ada kebahagiaan tersendiri, kebahagiaan dan kesempatan aku mengungkapkan juga bagaimana aku pada dirimu. Namun, bingar bahagia itu tetiba meredup diiringi awan kelabu yang mewarnai cerah senja sore itu. Kau lagi-lagi membatalkan janji temu di kedai kopi yang sudah kita sepakati. Dengan alasan lain.
Kau bilang, kau ingin menyampaikan hal penting yang aku harus tau, tentang bagaimana kita nantinya. Tentang kau yang ingin menjadi bagian dari hidupku, tentang cinta yang tak lekang oleh waktu, tentang cinta yang akan kau jaga selama hidupmu.
Lagi, kau menjanjikan waktu lain di tempat dan waktu yang sama untuk bertemu denganku yang akhirnya kau ingkari juga, hanya karena rintik hujan. Hei...bukannya kau juga menyukai hujan? Lantas kenapa kau membatalkan janji temu yang selalu aku tunggu hanya karena hujan?
Aku berkecamuk dengan pikiranku sendiri. Kau mulai mempermainkanku, dan aku tetap menunggumu. Betapa bodohnya seseorang hanya karena rasa cinta ia rela dipermainkan meskipun ia menyadari.
***
Entah sudah berapa sabtu yang terlewat hingga sabtu ini dengan janji-janji ngopi yang kau ingkari. Tetap saja aku menunggu ajakanmu lagi. Hingga tetiba aku melihat kau berfoto dengan seorang wanita yang kau post di snapgram, snap whatsapp. Hati wanita mana yang tak berkecamuk melihat lelaki yang memiliki perasaan yang sama berpose bahagia dengan wanita lain? Tak ada.
Kutatap nanar rinai hujan yang mulai gemericik di luar jendela, seolah ia berpihak padaku. Awan kelabunya memenuhi setiap sudut pikiranku. Kau yang tak pernah menepati janjimu, seketika ingin kulupakan.
Kau menyukai senja, kau mencintai kopi, tapi kau mengingkari kopi-kopi yang kau janjikan pada wanita yang perasaannya kau permainkan. Jika katamu kau tak pantas, memang...kau sangat tak pantas. Aku menyesalinya.
No comments:
Post a Comment